Kota Cirebon, 18 September 2026 — MTs Salafiyah Kota Cirebon kembali menghadirkan pengalaman belajar di alam terbuka melalui kegiatan Perkemahan Bersama 2026. Selama tiga hari dua malam, 15–17 September 2026, para peserta menjadikan Bumi Perkemahan Curug Leles, Majalengka, sebagai ruang belajar yang berbeda—jauh dari suasana ruang kelas, tetapi sarat dengan pengalaman, tantangan, kebersamaan, dan pembentukan karakter.
Berlokasi di kawasan kaki lereng Gunung Ciremai, Bumi Perkemahan Curug Leles menawarkan suasana alam yang asri dengan udara sejuk dan lingkungan yang mendukung kegiatan kepramukaan. Pemilihan lokasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya MTs Salafiyah menghadirkan pembelajaran kontekstual yang memungkinkan peserta didik berinteraksi langsung dengan alam sekaligus mengembangkan berbagai keterampilan sosial dan personal.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta didik, guru, serta tenaga pendamping MTs Salafiyah Kota Cirebon. Turut terlibat pula para guru praktikan dari program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang sedang melaksanakan program magang di MTs Salafiyah. Kehadiran mereka tidak sekadar sebagai peserta, tetapi juga sebagai pendamping kegiatan sekaligus sarana pembelajaran praktis mengenai pengelolaan dan manajemen program perkemahan di lingkungan sekolah.
Mengusung tema “Mewujudkan Generasi Mandiri, Berakhlak Karimah dan Berjiwa Pemimpin, Tangguh di Alam Terbuka”, Perkemahan Bersama 2026 dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan rekreatif. Di balik setiap aktivitas yang dilakukan, terdapat proses pendidikan karakter yang diarahkan untuk menumbuhkan kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, kepedulian terhadap sesama, serta kecintaan terhadap lingkungan.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala MTs Salafiyah Kota Cirebon, Hj. Uul Ulfiyah, S.Ag., melalui upacara pembukaan di halaman madrasah sebelum rombongan diberangkatkan menuju lokasi perkemahan. Dalam amanatnya, Hj. Uul mengajak seluruh peserta untuk menjadikan alam sebagai ruang pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata tentang arti kemandirian dan kebersamaan.
“Sesuai dengan tema yang kita usung tahun ini, kita semua dan anak-anak, baik putra maupun putri, harus dapat belajar dari alam untuk mandiri, saling menolong dengan sesama, dan saling menghormati satu sama lain,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan seluruh peserta agar senantiasa menjaga akhlakul karimah selama berada di lingkungan perkemahan. “Mengingat kita bukan penduduk asli daerah itu, dan bukan hanya manusia yang menempati lokasi tersebut, maka jagalah perilaku. Sopan dalam berbicara, berinteraksi, dan dalam melakukan kegiatan apa pun di sana,” pesannya.
Sebelum berangkat ke lokasi, para peserta terlebih dahulu mengikuti rangkaian Pra-Kemping. Kegiatan ini menjadi tahap persiapan agar peserta memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dasar sebelum menjalani kehidupan di perkemahan.
Dalam Pra-Kemping, siswa mendapatkan pelatihan praktis, antara lain cara berkemas, menata perlengkapan, hingga melipat sleeping bag dengan benar. Para peserta juga memperoleh gambaran mengenai rangkaian kegiatan yang akan mereka jalani selama tiga hari dua malam.
Hangatnya Api Unggun dan Semarak Pentas Seni
Memasuki malam kedua sekaligus malam terakhir di bumi perkemahan, suasana semakin hangat dengan digelarnya upacara api unggun yang dilanjutkan dengan pentas seni.
Di tengah dinginnya malam kawasan perkemahan, nyala api unggun menjadi pusat perhatian seluruh peserta dan pendamping. Mereka duduk dan berdiri dalam lingkaran, mengikuti prosesi dengan penuh perhatian dan semangat. Cahaya api yang menerangi kegelapan malam seakan menjadi simbol semangat persatuan, kebersamaan, dan persaudaraan yang tumbuh selama perkemahan.
Sebagai pembina upacara, Kak Uul Ulfiyah mengingatkan bahwa api unggun bukan sekadar tradisi dalam kegiatan kepramukaan. Nyala api menjadi simbol semangat yang harus terus dijaga oleh setiap anggota Pramuka—semangat untuk bersatu, saling menguatkan, mencintai alam, serta menjaga nilai-nilai kebersamaan.
Usai upacara api unggun, suasana berubah menjadi lebih meriah. Panggung sederhana menjadi ruang ekspresi bagi para peserta untuk menunjukkan kreativitas melalui pentas seni. Setiap kelompok menampilkan karya terbaik yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Beragam penampilan disambut tepuk tangan, sorakan, dan gelak tawa. Tidak hanya menjadi hiburan, pentas seni juga menjadi ajang untuk melatih keberanian tampil di depan publik, kreativitas, kekompakan, serta rasa percaya diri.
Malam itu, alam terbuka menjadi saksi bagaimana siswa MTs Salafiyah belajar mengekspresikan diri sekaligus menghargai kreativitas teman-temannya.
Perkemahan Bersama 2026 menjadi salah satu ikhtiar MTs Salafiyah Kota Cirebon dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mandiri, disiplin, berakhlak karimah, memiliki jiwa kepemimpinan, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap alam dan lingkungan.


























